Buku Satu September 24, 2008
Posted by ruasbuku in resensi.trackback
MENGUBUR NEGERI SUCI TIGA AGAMA
Judul : Jalan-Jalan di Palestina, Catatan atas Negeri yang Menghilang
Penulis : Raja Shehadeh
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetak : 2008
Tebal : 237 Halaman
Membayangkan Palestina kita dihadapkan pada kengerian. Mayat-mayat bergelimpangan, peluru yang bergetar membelah langit dan detuman mortir yang menghujani daerah suci tiga agama samawi ini. Palestina adalah negeri dimana penjajahan diperlihatkan secara kasat mata.
Mungkin kutukan bagi Palestina adalah posisinya yang begitu sentral dalam imajinasi Barat, baik secara historis maupun religius. Negeri ini dirupa dan dibingkai untuk menyamai kejadian-kejadian suram yang tercatat disana. Sejak diduduki Israel 1967 silam negeri ini benar-benar telah berubah. Bukan saja peta politik, tapi juga wilayah.
Persoalan Palestina tidak saja soal ribuan rakyat tewas selama masa pendudukan. Raja Shehadeh, penulis buku ini secara gamblang menyingkap cerita utama penjajahan Zionis atas Palestina. Penulis yang seorang pengacara di Palestina ini mendedahkan dasar utama Israel merebut tanah yang dijanjikan.
Disana-sini pemukiman baru Israel berdiri mengepung rumah-rumah Palestina. Negara Yahudi ini benar-benar, seperti terucapkan Ariel Sharon pada pertengahan 1980-an “Kami ingin membuat peta negara yang sama sekali baru, sehingga kami mustahil diabaikan (Hal 68). Saat itu dia masih seorang Menteri pertahanan.
Buku Jalan-Jalan Palestina ini berisi enam bab cerita jalan-jalan Raja Shehadeh dalam kurun 26 tahun diperbukitan sekitar Ramallah, Jerusalem dan Laut Mati. Tiap perjalanan punya rute sendiri, melintasi jarak dan waktu, berlatar sejarah suci negeri tiga agama besar dunia.
Lewat buku ini Raja Shehadeh seakan membantah penggambaran para pengembara Barat yang lebih banyak menceritakan Palestinasebagai negeri tandus dan gersang. Dalam buku ketiganyanya ini, penulis yang juga seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) di Pelestina ini menunjukan kepada dunia bahwa Paletina bukanlah negeri gersang. Palestina penuh keelokan dengan bukit-bukit hijau yang ditumbuhi pohon pinus dan zaitun. Negeri tempat bunga-bunga bergantian mekar disetiap musim. Negeri dengan laut mati berwana biru mempesona.
Sayangnya, negeri elok itu sekarang berubah sama sekali. Pencaplokan tanah oelh Zionisme telah mengubah daerah itu. bukit-bukit hijau didatarkan, pepohonan ditebang dan mata air dibendung, semata-mata demi pemukiman bangsa Israel yang tumbuh bak cendawan dimusim hujan di antero Palestina.
Tidak salah jika Raja Shehadeh mengatakan buku yang memenangi Orwel Prize 2008 ini sebagai sebuah catatan atas negeri yang menghilang. Faktanya memang seperti itu. Sejak pendudukan Israel, peta Palestina benar-benar, seperti kata Ariel Sharon, telah diubah.
Disana-sini berdiri pos-pos pemeriksaan. Dinding pemisah pun dibangun membentang berkelok-kelok. Jalan-jalan layang dibuat untuk kebutuhan warga Israel. Negara Yahudi itu bukan saja membagi-bagi tanah Palestina, tapi juag menentukan kehidupan sosial dan ekonomi rakyat. Mereka dipaksa hidup sebagai orang asing di negeri mereka sendiri.
Lihat saja bagaimana penderitaan warga Desa Beit Ur (hal 100). Israel membangun jalan beton membelah desa itu dan beberapa desa tetangganya. Warga tidak bisa menggunakan jalan dengan arus lalu lintas padat itu karena dipagari dinding pembatas. Israel sengaja tidak menyediakan jembatan penyebaran, sehingga warga Desa Beit Ur tidak bisa melintas walau sekadar untuk memetik pohon zaitun yang ada di seberang jalan.
Palestina ternyata menyimpan ironi lain. Perjanjian damai Palestina-Israel ditandatangi di Oslo Norwegia, 20 Agustus 1983 antara Arafat dan Yitzhak Rabin, membuat banyak orang Palestina merasa “kalah”. Karena perjanjian ini menafikan perjaungan hukum yang sudah dilakukan orang-orang seperti Raja Shehadeh, puluhan tahun membendung pencaplokan tanah Paletina.
“Persetujuan Oslo mengubur kebenaran yang kuyakini. Satu-satunya perjuangan yang diakui adalah perjunagn bersenjata PLO. Perjuangan itulah yang telah mendatangkan “perdamaian” di Palestina,” (hal 145).
Raja Shehadeh merasa persetujuan Oslo itu salah. Dia merasa para pemimpin PLO yang menjadi juru runding tidak menguasai persoalan utama Palestina. Berbeda dengan pemimpin PLO yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri, Raja Shehadeh lahir dan besar di negeri itu. Prediksinya ternyata benar, beberapa tahun kemudian Pesetujuan Oslo gagal.
Terbentuknya rezim baru di Paletina ternyata punya implikasi lain. Pepatah kekuasan cenderung korup, ternyata benar. Pada halaman 158, dia menceritakan kisah salah satu temanya, Viktor yang frustasi dengan korupsi di rezim baru itu. Pengusaha software komputer ini akhirnya memilih meninggalkan Palestina untuk selamanya.
Palestina dalam ingatakan kita bukan sekedar negeri indah nan jauh disana. Secara historis dan religius dia berkelindan erat dengan tanah ini. Sebagai negeri dengan umat Islam terbesar di dunia, relakah kita negeri ini menghilang dari peta dunia. Negeri tempat kiblat pertama–Masjidil Aqsa–umat Muslim berdiri. (nto)

Komentar»
No comments yet — be the first.